Experiential Learning dan Multiple Intellegence
1.Pendekatan pembelajaran experiential learning
adalah suatu metode pembelajaran yang berfokus pada pengalaman langsung dan aktif siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman. Pendekatan ini didasarkan pada filosofi bahwa pembelajaran yang paling efektif terjadi melalui pengalaman nyata dan refleksi terhadap pengalaman tersebut.
Experiential learning melibatkan siswa secara langsung dalam pengalaman belajar yang berhubungan dengan dunia nyata. Mereka terlibat dalam kegiatan yang praktis, proyek, simulasi, permainan peran, penelitian lapangan, atau eksperimen langsung yang relevan dengan topik pembelajaran. Selama pengalaman tersebut, siswa berinteraksi dengan materi pelajaran dan konteks belajar secara langsung, yang membantu mereka memahami konsep dan mengembangkan keterampilan praktis.
Pendekatan experiential learning juga menekankan pada refleksi dan analisis setelah pengalaman belajar. Setelah melalui pengalaman, siswa diminta untuk memikirkan, menganalisis, dan merenungkan apa yang mereka pelajari. Ini melibatkan pemikiran kritis, evaluasi, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengalaman yang telah mereka alami. Dalam refleksi tersebut, siswa dapat mengidentifikasi kaitan antara pengalaman dan konsep-konsep yang terkait, serta menerapkan pembelajaran tersebut dalam konteks kehidupan nyata.
Pendekatan experiential learning memiliki beberapa prinsip dasar, antara lain:
1. Aktif dan Terlibat: Siswa secara aktif terlibat dalam pengalaman belajar, melalui kegiatan nyata, pengamatan, percobaan, dan partisipasi langsung.
2. Pembelajaran Berpusat pada Siswa: Fokus utama adalah pada pembelajaran siswa, di mana mereka memiliki peran aktif dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
3. Konteks Relevan: Pengalaman belajar terkait erat dengan konteks dunia nyata, sehingga siswa dapat melihat keterkaitan dan relevansi materi pembelajaran.
4. Refleksi dan Analisis: Siswa diberi kesempatan untuk merenung dan menganalisis pengalaman belajar mereka, mengidentifikasi pembelajaran yang diambil, dan mengaitkannya dengan konsep atau teori yang relevan.
5. Pembelajaran Kolaboratif: Siswa didorong untuk bekerja sama dalam kelompok atau tim, berbagi pengalaman, saling mendukung, dan belajar dari satu sama lain.
Keuntungan dari pendekatan experiential learning termasuk meningkatkan motivasi belajar siswa, mengembangkan keterampilan praktis, memperdalam pemahaman konsep, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Pendekatan ini juga mendorong pengembangan kreativitas, kepercayaan diri, dan pemikiran kritis siswa.
Pendekatan experiential learning sering digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran, termasuk dalam pendidikan formal, pelatihan profesional, dan pengembangan diri.
2.Pendekatan Multiple Intelligences (MI) adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dan ilmuwan kognitif terkenal. Teori ini menyatakan bahwa setiap individu memiliki beragam kecerdasan atau kemampuan yang berbeda-beda, yang tidak hanya terbatas pada kecerdasan verbal dan logis-matematis tradisional.
Gardner mengidentifikasi adanya delapan kecerdasan dasar dalam teori Multiple Intelligences, yaitu:
1. Kecerdasan Linguistik-Verbal: Kemampuan dalam menggunakan kata-kata secara efektif, baik dalam berbicara maupun menulis.
2. Kecerdasan Logis-Matematis: Kemampuan dalam memahami dan menggunakan logika serta pemecahan masalah matematis.
3. Kecerdasan Visual-Ruang: Kemampuan dalam memahami ruang, menggambar, menghasilkan atau memvisualisasikan gambar dan objek.
4. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh: Kemampuan dalam mengendalikan gerakan tubuh dan menyampaikan pesan melalui aktivitas fisik.
5. Kecerdasan Musikal: Kemampuan dalam memahami dan menghasilkan musik, melodi, ritme, dan harmoni.
6. Kecerdasan Interpersonal: Kemampuan dalam memahami dan berinteraksi dengan orang lain, memiliki empati, dan berkomunikasi secara efektif.
7. Kecerdasan Intrapersonal: Kemampuan dalam memahami dan mengenali diri sendiri, memiliki introspeksi, dan memahami keinginan serta motivasi pribadi.
8. Kecerdasan Naturalis: Kemampuan dalam mengamati dan memahami dunia alam, termasuk flora, fauna, dan aspek lingkungan.
Menurut teori ini, setiap individu memiliki kombinasi unik dari kecerdasan-kecerdasan ini, dan pengajaran yang efektif harus mempertimbangkan variasi kecerdasan tersebut. Guru dapat menerapkan pendekatan Multiple Intelligences dengan:
1. Mengakomodasi berbagai gaya belajar: Guru dapat menggunakan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang menggabungkan elemen-elemen berbeda dari kecerdasan-kecerdasan ini untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam.
2. Menerapkan aktivitas yang beragam: Guru dapat menyediakan beragam aktivitas pembelajaran, seperti permainan peran, eksperimen, proyek, musik, seni, dan sebagainya, yang memungkinkan siswa untuk mengekspresikan kecerdasan-kecerdasan mereka secara berbeda.
3. Kolaborasi dalam belajar: Guru dapat mendorong kerja sama dan interaksi antar siswa dalam kegiatan belajar, memungkinkan mereka untuk saling menggali dan memanfaatkan kecerdasan-kecerdasan yang berbeda dalam kelompok.
4. Memberikan pilihan dan fleksibilitas: Guru dapat memberikan pilihan kepada siswa dalam memilih cara mereka belajar dan mengekspresikan pemahaman mereka, sesuai dengan kecerdasan dominan mereka.
Pendekatan Multiple Intelligences (MI) dalam pembelajaran menekankan pentingnya mengakui dan menghargai keberagaman kecerdasan siswa. Dalam penerapannya, pendekatan ini memberikan berbagai cara dan strategi untuk memfasilitasi pembelajaran yang menjangkau berbagai jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Berikut adalah beberapa contoh penerapan pendekatan Multiple Intelligences dalam pembelajaran:
1. Menyesuaikan metode pembelajaran: Guru dapat menggunakan variasi metode pembelajaran yang menggabungkan berbagai jenis kecerdasan. Misalnya, menggunakan materi tulis untuk kecerdasan linguistik-verbal, visualisasi konsep menggunakan gambar atau diagram untuk kecerdasan visual-ruang, atau melibatkan aktivitas fisik dan permainan peran untuk kecerdasan kinestetik-tubuh.
2. Penggunaan materi pembelajaran yang beragam: Guru dapat menyediakan berbagai jenis materi pembelajaran yang menggabungkan kecerdasan-kecerdasan berbeda. Misalnya, menyajikan informasi melalui teks tulisan, gambar, musik, atau video untuk memberikan peluang kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui berbagai kecerdasan yang mereka miliki.
3. Mengembangkan proyek berbasis kecerdasan: Guru dapat merancang proyek atau tugas yang memungkinkan siswa untuk menggunakan kecerdasan-kecerdasan mereka secara terintegrasi. Misalnya, meminta siswa untuk membuat presentasi multimedia yang menggabungkan teks, gambar, dan suara untuk mengekspresikan pemahaman mereka tentang topik tertentu.
4. Mengintegrasikan seni dan musik dalam pembelajaran: Guru dapat menggunakan seni, seperti melukis, menggambar, atau membuat karya seni, sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman siswa tentang topik pembelajaran. Selain itu, penggunaan musik sebagai alat untuk membantu mengingat informasi atau memperkuat konsep juga dapat dilakukan.
5. Pemberian kesempatan berkolaborasi: Guru dapat mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kegiatan pembelajaran yang memadukan kecerdasan interpersonal. Misalnya, mengerjakan proyek kelompok yang melibatkan diskusi, negosiasi, dan kerja tim untuk mencapai tujuan bersama.
6. Menyediakan pilihan dalam penilaian: Guru dapat memberikan pilihan kepada siswa dalam mengekspresikan pemahaman mereka melalui penilaian yang beragam. Misalnya, siswa dapat memilih untuk menulis esai, membuat poster, menyajikan pidato, atau membuat video sebagai bentuk penilaian.
Penerapan pendekatan Multiple Intelligences dalam pembelajaran memberikan pengalaman belajar yang lebih inklusif, memperhatikan keberagaman kecerdasan siswa, dan memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi potensi dan minat mereka secara lebih baik. Dengan demikian, siswa dapat lebih terlibat, termotivasi, dan efektif dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan.
Strategi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (MI) dapat membantu mengakomodasi keberagaman kecerdasan siswa dan meningkatkan efektivitas pembelajaran. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:
1. Menyesuaikan metode pengajaran: Gunakan berbagai metode pengajaran yang melibatkan berbagai jenis kecerdasan. Misalnya, gunakan cerita atau narasi untuk kecerdasan linguistik-verbal, gambar atau diagram untuk kecerdasan visual-ruang, dan permainan peran atau aktivitas fisik untuk kecerdasan kinestetik-tubuh.
2. Materi pembelajaran yang beragam: Sediakan beragam materi pembelajaran yang memanfaatkan berbagai kecerdasan. Misalnya, gunakan video, gambar, musik, dan materi audiovisual lainnya untuk memfasilitasi pemahaman siswa dengan kecerdasan visual, musikal, dan kinestetik-tubuh.
3. Pembelajaran kooperatif: Fasilitasi kerja kelompok atau tim yang heterogen, di mana setiap anggota dapat berkontribusi dengan kecerdasan yang berbeda. Misalnya, siswa dengan kecerdasan verbal dapat membantu mengekspresikan ide secara lisan, sementara siswa dengan kecerdasan kinestetik-tubuh dapat membantu dalam aktivitas fisik.
4. Proyek berbasis kecerdasan: Rancang proyek yang memungkinkan siswa menggunakan kecerdasan mereka secara terintegrasi. Misalnya, siswa dapat membuat presentasi multimedia yang menggabungkan teks, gambar, dan suara untuk mempresentasikan pemahaman mereka tentang topik tertentu.
5. Penilaian beragam: Berikan penilaian yang beragam yang mencerminkan keberagaman kecerdasan siswa. Misalnya, penilaian dapat meliputi pembuatan poster, pidato, video, atau karya seni yang mencerminkan pemahaman siswa tentang materi pembelajaran.
6. Stimulasi lingkungan pembelajaran: Ciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi berbagai kecerdasan. Misalnya, sediakan buku-buku, bahan gambar, instrumen musik, dan bahan-bahan kreatif yang dapat digunakan oleh siswa untuk mengekspresikan kecerdasan mereka.
7. Keterlibatan emosi: Libatkan aspek emosional dalam pembelajaran. Misalnya, buat pengalaman belajar yang memicu emosi siswa, seperti menonton film inspiratif, berdiskusi tentang isu-isu yang relevan, atau mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman pribadi siswa.
8. Refleksi dan evaluasi: Berikan waktu bagi siswa untuk merefleksikan pengalaman belajar mereka, mengidentifikasi kecerdasan yang mereka gunakan, dan memikirkan cara untuk mengembangkan kecerdasan lainnya.
Penerapan strategi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences dapat membantu siswa merasa lebih terlibat, termotivasi, dan berhasil dalam proses pembelajaran.
Komentar
Posting Komentar