Perkembangan Memori/Ingatan
A. Perkembangan Event dan Autobiographical memory
Perkembangan event dan autobiographical memory merujuk pada kemampuan seseorang dalam mengingat dan merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Berikut penjelasan tentang perkembangan keduanya:
1. Perkembangan Event Memory:
- Event memory mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengingat peristiwa-peristiwa spesifik yang terjadi di masa lalu.
- Pada awalnya, bayi dan anak-anak sangat terbatas dalam kemampuan mereka untuk mengingat peristiwa-peristiwa spesifik. Mereka cenderung mengandalkan ingatan jangka pendek dan pengenalan wajah.
- Seiring perkembangan, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk mengingat peristiwa-peristiwa spesifik dengan bantuan ingatan episodik. Mereka dapat mengingat peristiwa yang terjadi di lingkungan mereka dengan detail yang lebih baik.
- Dalam masa remaja dan dewasa, kemampuan mengingat peristiwa menjadi lebih kompleks dan terstruktur. Memori episodik yang berkembang memungkinkan orang untuk mengingat peristiwa dengan konteks emosional dan waktu yang lebih baik.
2. Perkembangan Autobiographical Memory:
- Autobiographical memory adalah kemampuan seseorang untuk mengingat dan merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka secara lebih luas dan terintegrasi.
- Pada masa awal anak-anak, autobiographical memory cenderung terbatas pada peristiwa-peristiwa terkini dan terkait dengan pengalaman langsung mereka.
- Seiring perkembangan, kemampuan untuk membentuk dan mengingat kenangan autobiografis yang lebih luas dan lebih rinci berkembang. Kemampuan ini dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, penggunaan strategi pengorganisasian informasi, dan refleksi diri.
- Pada masa remaja dan dewasa, autobiographical memory menjadi lebih kompleks dan terintegrasi. Individu dapat mengingat dan menghubungkan peristiwa-peristiwa dalam konteks kehidupan mereka, mengaitkan emosi, nilai, dan makna pribadi dengan kenangan tersebut.
Perkembangan event dan autobiographical memory berkaitan erat dengan perkembangan kognitif, bahasa, dan kemampuan refleksi diri individu. Faktor-faktor ini berperan dalam meningkatkan kemampuan seseorang untuk merekam, mengingat, dan memahami peristiwa-peristiwa yang membentuk identitas dan pengalaman hidup mereka.
Apa yang dimaksud dengan infantile amnesia?
Infantile amnesia (amnesia bayi) mengacu pada fenomena di mana orang dewasa sulit atau tidak dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa bayi mereka, biasanya sebelum usia 3 tahun. Ini berarti ingatan tentang peristiwa-peristiwa tersebut hilang atau sangat terbatas dalam ingatan sadar.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meskipun anak-anak mampu membentuk ingatan pada usia bayi, mereka cenderung kehilangan akses sadar ke ingatan tersebut ketika mereka tumbuh dewasa. Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap infantile amnesia:
1. Kematangan otak: Pada masa bayi, sistem memori otak masih dalam tahap perkembangan. Struktur otak yang terlibat dalam pembentukan dan pengambilan ingatan, seperti hippocampus, belum sepenuhnya matang. Keterbatasan ini mungkin menyebabkan kesulitan dalam menyimpan dan mengingat peristiwa dengan baik.
2. Kurangnya bahasa verbal: Saat bayi, kemampuan bahasa verbal mereka masih terbatas. Kemampuan mengungkapkan dan mengomunikasikan pengalaman melalui kata-kata belum terbentuk dengan baik. Bahasa verbal memainkan peran penting dalam membantu proses konsolidasi memori dan pengingatan yang lebih kuat.
3. Perubahan identitas dan konsep diri: Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan, konsep diri anak berubah secara signifikan. Identitas dan pengalaman masa bayi mungkin tidak relevan atau tidak terhubung dengan konsep diri yang berkembang saat ini. Ini dapat mengakibatkan penghapusan atau pengurangan akses ke ingatan masa bayi.
Meskipun infantile amnesia umum, bukan berarti bahwa tidak ada jejak ingatan dari masa bayi yang tersisa sama sekali. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa adanya jejak tidak sadar dari peristiwa-peristiwa masa bayi yang dapat mempengaruhi perilaku atau emosi di kemudian hari. Namun, kemampuan sadar untuk mengingat peristiwa-peristiwa masa bayi secara jelas terbatas.
Infantile amnesia menunjukkan kompleksitas dan uniknya perkembangan memori dan kesadaran pada tahap awal kehidupan manusia. Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, penelitian terus dilakukan untuk memahami lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjelaskan fenomena ini.
B. Perkembangan Scripted Memory
Perkembangan scripted memory mengacu pada kemampuan anak-anak untuk membentuk dan mengingat urutan peristiwa yang terstruktur dan berulang dalam bentuk skrip atau skenario. Skrip adalah representasi mental tentang urutan langkah-langkah atau kejadian yang biasanya terjadi dalam situasi tertentu. Misalnya, skrip untuk pergi ke restoran mungkin mencakup langkah-langkah seperti memasuki restoran, duduk di meja, memesan makanan, makan, dan membayar tagihan.
Berikut adalah beberapa poin penting tentang perkembangan scripted memory:
1. Pembentukan skrip: Anak-anak mulai membentuk skrip pada usia dini melalui pengalaman dan interaksi mereka dengan lingkungan. Mereka mengamati dan memperhatikan pola-pola peristiwa yang terjadi secara berulang dalam konteks yang sama.
2. Skrip sebagai bingkai berpikir: Skrip memberikan anak kerangka berpikir tentang apa yang diharapkan terjadi dalam situasi tertentu. Ini membantu mereka memahami urutan peristiwa dan memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
3. Fleksibilitas skrip: Pada awalnya, skrip anak-anak cenderung kaku dan tidak fleksibel. Mereka mungkin mengikuti skrip secara harfiah tanpa mempertimbangkan variasi atau perubahan. Namun, seiring dengan perkembangan kognitif, anak-anak menjadi lebih fleksibel dalam memodifikasi dan mengadaptasi skrip mereka sesuai dengan situasi yang berbeda.
4. Pengaruh budaya: Skrip juga dipengaruhi oleh faktor budaya. Peristiwa yang dianggap umum atau penting dalam suatu budaya akan mempengaruhi pembentukan skrip anak dalam budaya tersebut. Skrip juga dapat mengandung nilai-nilai budaya dan norma sosial yang diajarkan kepada anak.
5. Mengingat skrip: Anak-anak mampu mengingat dan merekam skrip dalam memori mereka. Mereka dapat mengulang skrip tersebut dalam interaksi sosial atau saat bermain peran. Kemampuan mengingat skrip berkembang seiring dengan perkembangan memori dan kemahiran bahasa anak.
Perkembangan scripted memory berperan penting dalam membantu anak-anak memahami dan berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari yang terstruktur, seperti bermain peran, rutinitas harian, atau situasi-situasi sosial tertentu. Skrip juga membantu anak-anak memperoleh keterampilan sosial, mengembangkan pemahaman tentang konvensi sosial, dan memperluas kemampuan komunikasi mereka.
C. Kontruksi Sosial dan Memori Autobiografi
Konstruksi sosial memori autobiografi merujuk pada pengaruh interaksi sosial dan konteks sosial dalam pembentukan, interpretasi, dan pemeliharaan memori tentang pengalaman pribadi seseorang. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang konstruksi sosial dari memori autobiografi:
1. Interaksi sosial: Interaksi sosial dengan orang lain memainkan peran penting dalam pembentukan dan pemeliharaan memori autobiografi. Melalui interaksi dengan anggota keluarga, teman sebaya, dan komunitas, seseorang terlibat dalam diskusi, berbagi cerita, dan membangun narasi tentang pengalaman hidup mereka. Percakapan ini membantu mengkonsolidasikan dan memperkuat memori autobiografi melalui proses penulisan ulang atau penafsiran ulang pengalaman yang terjadi.
2. Norma sosial: Norma-norma sosial dan ekspektasi budaya mempengaruhi bagaimana pengalaman pribadi direkam dan diinterpretasikan dalam memori autobiografi. Individu cenderung membangun memori mereka sesuai dengan apa yang dianggap "normal" atau "harus" dalam konteks sosial mereka. Norma-norma ini dapat mencakup konvensi naratif, penekanan pada peristiwa-peristiwa tertentu, atau penghormatan terhadap nilai-nilai budaya.
3. Penyuntingan memori: Konstruksi sosial memori autobiografi melibatkan proses penyuntingan di mana seseorang memilih, mengurangi, atau menyesuaikan detail-detail dalam memori mereka sesuai dengan norma sosial atau ekspektasi yang ada. Ini dapat terjadi dalam interaksi sosial di mana narasi tentang pengalaman pribadi diperbaiki atau disesuaikan agar sesuai dengan norma-norma yang diterima.
4. Komunalitas memori: Memori autobiografi tidak hanya milik individu, tetapi juga memilki dimensi komunal atau bersifat kolektif. Dalam konteks keluarga, budaya, atau komunitas, cerita-cerita keluarga, tradisi lisan, atau memori bersama dibangun dan dibagikan. Hal ini membentuk identitas kolektif dan mempengaruhi cara individu mengkonstruksi, mengingat, dan memelihara memori autobiografi mereka.
5. Pengaruh sosial dalam pemeliharaan memori: Ketika memori autobiografi diingat dan diperbaharui dalam interaksi sosial, mereka dapat mengalami perubahan atau penyesuaian seiring waktu. Pengaruh sosial dapat membentuk ulang dan mengubah memori, terkadang bahkan menyebabkan distorsi atau pengabaian terhadap detail asli pengalaman.
Dengan demikian, konstruksi sosial memori autobiografi menyoroti betapa memori pribadi tidak hanya produk dari pengalaman individu, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial, interaksi, norma sosial, dan pengaruh budaya.
C. Perkembangan Strategi Memori
dalam perkembangan strategi memori, terdapat tiga strategi utama yang berkaitan dengan penyimpanan, pengorganisasian, dan pengambilan informasi dalam memori. Berikut penjelasan mengenai strategi-strategi tersebut:
1. Rehearsal (pengulangan): Rehearsal adalah strategi memori yang melibatkan pengulangan atau pengulangan kembali informasi yang ingin diingat. Dalam pengulangan, individu mengulangi informasi berulang kali dalam pikiran mereka untuk mempertahankannya dalam memori jangka pendek atau memindahkannya ke memori jangka panjang. Contohnya adalah mengulang-ngulang kata-kata, angka, atau fakta dalam pikiran.
2. Organisasi: Organisasi adalah strategi memori yang melibatkan pengelompokkan atau pengorganisasian informasi yang ingin diingat menjadi kelompok-kelompok yang lebih teratur atau berdasarkan kategori-kategori tertentu. Dengan mengelompokkan informasi ke dalam kategori-kategori yang saling terkait, individu dapat membentuk skema atau kerangka pikiran yang membantu memori dalam mengorganisir dan mengakses informasi dengan lebih efisien. Contohnya adalah mengorganisasi kata-kata dalam kelompok-kelompok berdasarkan konsep atau tema yang sama.
3. Retrieval (pengambilan): Retrieval adalah strategi memori yang melibatkan upaya untuk mengambil informasi yang telah disimpan dalam memori. Proses pengambilan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengingat kembali informasi dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek, menggunakan petunjuk atau asosiasi untuk mengingat kembali informasi yang terkait, atau menggunakan teknik mnemonik untuk meningkatkan kemampuan pengambilan informasi. Contohnya adalah mengingat kembali jawaban-jawaban yang telah dipelajari dalam sebuah tes.
Perkembangan strategi memori terjadi seiring dengan perkembangan kognitif individu. Pada usia dini, anak-anak mungkin belum menguasai strategi-strategi ini dengan baik dan lebih bergantung pada strategi sederhana seperti pengulangan. Namun, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan, mereka mulai menggunakan strategi organisasi dan retrieval yang lebih canggih untuk membantu mereka mengingat dan mengakses informasi dengan lebih efektif. Dalam konteks pendidikan, penting bagi pendidik untuk membantu siswa mengembangkan dan menguasai strategi-strategi memori yang efektif untuk mendukung pembelajaran mereka.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar